Senin, 05 Maret 2012

PROGRAM PRO RAKYAT


ADVOKASI PEDAGANG KECIL
STASIUN JUANDA-GONDANGDIA-CIKINI

Selama 3 (tiga) bulan terakhir, Front Pengawal Program Pro Rakyat (FP3R) melakukan advokasi dan pendampingan terkait rencana revitalisasi dan pengosongan stasiun dari para pedagang kecil yang akan dilaksanakan PT KAI (Kereta Api Indonesia). FP3R menilai bahwa kebijakan revitalisasi dengan mengosongkan area stasiun dari segala aktifitas pedagang kecil dapat dimaknai sebagai penggusuran pedagang kecil oleh kepentingan para pemilik modal, yakni para pedagang besar dan modal asing, tegas Ketua Umum FP3R, Kardinal Benteng Raya.


Kebijakan revitalisasi PT KAI serupa juga pernah dilaksanakan di Stasiun Kota, dimana para pedagang kecil digusur secara paksa dan diganti dengan restoran-restoran cepat saji seperti AW, KFC, dan Bank-Bank swasta. Saat ini para pedagang kecil di Stasiun Kota jelas kalah dengan restoran-restoran cepat saji milik asing tersebut. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan program pro rakyat yang sedang dijalankan oleh Pemerintahan Presiden SBY.
Ironisnya, untuk memaksakan kebijakan revitalisasi tersebut, Dalam hal ini Senior manager Security PT KAI, Ahmad Sujadi menggunakan cara-cara premanisme dan kekerasan psikologis yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai HAM dan prinsip demokrasi. Pasalnya, terkait dikeluarkannya kebijakan tersebut, PT KAI tidak ada sosialisasi dan kesempatan sama sekali untuk berdialog. Berbagai pendekatan sudah dilakukan, termasuk mengirim surat ke PT KAI, namun tidak ada tanggapan sampai saat ini. Pihak Eksekutive Vice President Daop I yang menerima surat dari aliansi yaitu Bapak Purnomo Radiq selaku senior manajer aset tidak bisa berbuat apa-apa. Berdasarkan pengakuan Pak Darmoyo kepada para pedagang stasiun juanda, bahwa revitalisasi sepenuhnya merupakan kebijakan  Direksi PT KA.
Setelah mengalami jalan buntu, para pedagang kecil tersebut mengadu kepada anggota Komisi A DPRD Provinsi DKI Jakarta, Taufiqurrahman. Pengaduan pedagang kecil Stasiun Juanda tersebut, langsung direspon serius oleh Taufiqurrahman dengan langsung terjun dan meninjau ke lokasi. Taufiq (begitu politisi muda dan kritis tersebut biasa dipanggil) memberikan dukungan kepada para pedagang, baik secara politik dan hukum. Langkah selanjutnya, untuk memperjuangkan nasib para pedagang kecil Stasiun Juanda tersebut, Danil (begitu panggilan akrabnya) mewakili FP3R bersama Ketua Paguyuban Pedagang Stasiun Juanda, Anni Faisal yang sehari-hari sebagai pedagang konter HP, Saparudin, Ketua Paguyuban Pedagang Stasiun Gondangdia, dan Djarkasih Damanik,  Ketua Paguyuban Pedagang Stasiun Cikini menginisiasi dibentuknya presidium paguyuban pedagang gabungan dari tiga stasiun, yaitu Juanda, Gondangdia dan Cikini dengan nama Aliansi Serikat Pedagang Stasiun Layang yang berbentuk presidium.
Aliansi Serikat Pedagang Stasiun layang akan terus berjuang dan meminta Taufiqurrahman selaku anggota Komisi A DPRD Provinsi DKI Jakarta menjembatani dan melakukan mediasi ke pihak PT KAI agar para pedagang tidak digusur dari area Stasiun Juanda. Mediasi sudah dilakukan oleh Taufiq dan Monica selaku anggota DPRD DKI Jakarta, namun pihak PT KAI tetap bergeming, dengan tetap melakukan pengosongan dan pemagaran . (MAS)


Tidak ada komentar: