“AYO REBUT DAN AWASI ANGGARAN-PUBLIK!”
Ternyata
tidak mudah memperjuangkan hak-hak politik masyarakat. Pengalaman saya keliling
dari komunitas warga satu ke komunitas warga lainnya di Jakarta semakin membuka
mata saya bahwa warga Jakarta sudah sangat apatis dengan kebijakan pemerintah.
Saya tidak tahu ini salah siapa? Yang jelas sampai saat ini memang belum muncul
itikad baik pemerintah melalui birokrasi untuk mengajak warga dalam menyusun
kebijakan. Sekarang ini pekerjaan rumah kita adalah bagaimana membekali warga
untuk cakap dan berani terlibat dalam setiap proses penyusunan kebijakan
publik.
Sudah
saatnya warga sekarang ini menjemput bola. Kesejahteraan rakyat akan terwujud
apabila ada alokasi anggaran yang disiapkan untuk membangun kesejahteraan
warga. Oleh karena itu, kalau nasib warga mau berubah menjadi lebih baik,
satu-satunya jalan adalah proaktif untuk merebut anggaran itu. Merebut anggaran
dilakukan dengan cara terlibat aktif dalam setiap proses perencanaan anggaran
pembangunan (Musrenbang). Anggaran publik atau yang lazim disebut APBD disusun
setiap tahun untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Agar anggaran tersebut
tidak disusun secara elitis oleh orang-orang tertentu saja, maka warga harus
mencari tahu dan merebutnya agar bisa ikut merencanakan sejak awal. Rakyat/warga
harus hadir di forum musrenbang dan ikut membuat usulan-usulan program
prioritas yang berbasis pada permasalahan lingkungannya. Kalau ada anak putus
sekolah atau anak sakit, tapi orang tuanya tidak ada biaya, maka warga bisa
mengusulkan di forum musrenbang tersebut agar menjadi usulan prioritas yang
nanti bisa dianggarkan dalam APBD.
APBD
merupakan anggaran yang dihasilkan dari pajak dan retribusi rakyat. Sehingga
APBD itu adalah uangnya Rakyat. Maka sudah seharusnya rakyatlah yang berhak
mengatur mau dikemanakan anggaran itu. Sebagai pemegang kedaulatan, seharusnya
rakyat secara otomatis akan mendapatkan manfaat dari kekayaan Negara. Namun
menjadi ironi kalau rakyat untuk mendapatkan kue pembangunan tersebut masih
harus dengan cara merebutnya dengan susah payah.
Pertanyaannya,
apakah Negara sudah berfungsi dalam mensejahterakan warganya? sudahkan anggaran
rakyat tersebut dikelola dengan baik dan benar? Kalau ternyata semua itu belum
terlaksana, maka hal ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita untuk
memperjuangkannya.
Jakarta,Maret
2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar